Tuesday, November 26, 2013

Proyek Kroyokan 3



"Setengah delapan lewat delapan menit" ucap melia dalam hati, sembari menatap layar laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang akan mencapai deadline pukul 24.00 tepat nanti. Sejenak pikirannya melayang ke pertemuan beberapa saat lalu dengan Rendi. Mengingat ucapannya jika Ary mengharapkan sebuah pertemuan kembali dengannya.
44 menit beranjak dari pukul 7 malam dan Melia masih saja melamun di depan laptopnya. Sesuatu berkecamuk dalam batinnya, antara ingin lari dari bayangan Ary dan rasa ingin tahu keadaan mantan kekasihnya tersebut, untuk mengetahui alasan sebanarnya mengapa Ary dan dia secara tiba-tiba harus berpisah. Alasan yang sebenarnya juga ingin Melia sampaikan kepada Ary mengapa dia meninggalkannya tanpa sebab yang tidak dapat dimengerti oleh Ary.
Hampir satu jam Melia terdiam di kamarnya, di depan laptop yang sedari tadi telah dia campakkan untuk mengarungi kenangan bersama Ary. Seketika dia tersadar dari lamunannya. Udara terasa menyesakkan untuknya saat ini. "Aku butuh kafein" pikirnya. Lalu dia beranjak, menuju dapur apartemennya. Secangkir kopi hitam dengan sedikit gula dibuatnya untuk menemani hingga akhir malam ini.
Setengah jam sebelum deadline yang ditentukan, semua file telah dikirim melalui e-mail. Dan Melia pun langsung menuju tempat tidurnya, "melelahkan sekali hari ini" ujarnya.
Beberapa blok dari apartemen Melia, Ary tengah duduk di balkon rumahnya. Bertemankan kopi pahit dan alunan sendu True love waits milik Radio Head yang terputar dari perangkat audio di kamarnya pikirannya tertuju pada Melia.
Di depan semua orang Ary dapat menyembunyikan perasaannya dengan bersikap acuh dan memilih untuk menyendiri diantara buku-buku. Namun bayangan Melia tak pernah pernah bisa berhenti mengganggunya. Sosok wanita istimewa yang mengisi seluruh ruang di hatinya itu, yang lalu meninggalkannya tanpa alasan yang dapat diterima olehnya. Sosok wanita yang telah membuat luka di hati Ary dengan kepergiannya, namun tak pernah sedikitpyn Ary kehilangan rasa cintanya kepada Melia.
Pandangannya tertuju pada handphone di sebelah kursi tempatnya tengah melamun. Ingin sekali dia menghubungi Melia sekali lagi meskipun telah berpuluh kali pesan dan telponnya tak mendapat respon yang positif. Namun sekali lagi dia ragu apakah gadis pujaannya akan membalas pesannya ataukan satu kekecewaan lagi yang akan dia peroleh. Hal ini membuatnya gentar. Dengan suasana hati yang masih tak menentu dinyalakannya sebatang kretek dan dihisapkanya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Bagaikan slide film cinta yang lama dia mengingat kembali kebahagiannya bersama Melia, perasaan tenang saat bersamanya dan keceriaan yang selalu terpancar di mata gadis pujaannya. "Oohhh lama sekali waktu berlalu sejak saat itu" gumamnya. Sambil menyisakan sebuah isapan akhir pada kretek yang singgah di jemari tangan kanannya lagi-lagi matanya tertuju pada telepon seluler disampingnya. "Aku harus menghubungi Melia!!".
"Kamu mungkin sudah terlelap saat ini, maafkan aku jika mengganggumu. Tapi hatiku masih belum tenang jika belum bertemu denganmu dan menjelaskan semua yang terjadi diantara kita.." sebuah pesan yang agak berisi kalimat putus asa dikirimnya ke Melia. Hatinya telah siap menerima satu kekecewaan lagi.
Masih di balkon rumahnya tiba-tiba dering handphone-nya berbunyi. "1 message receive" dilihatnya di layar lcd. "Besok jam 7 malam di tempat biasa". Satu pesan singkat tanpa diduga berisi jawaban dari Melia. Hatinya berdebar. Tak disangka dia akan menerima balasan dari Melia.

***

No comments:

Post a Comment