"Setengah delapan lewat delapan menit" ucap melia
dalam hati, sembari menatap layar laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang akan
mencapai deadline pukul 24.00 tepat nanti. Sejenak pikirannya melayang ke
pertemuan beberapa saat lalu dengan Rendi. Mengingat ucapannya jika Ary mengharapkan
sebuah pertemuan kembali dengannya.
44 menit beranjak dari pukul 7 malam dan Melia masih saja
melamun di depan laptopnya. Sesuatu berkecamuk dalam batinnya, antara ingin
lari dari bayangan Ary dan rasa ingin tahu keadaan mantan kekasihnya tersebut,
untuk mengetahui alasan sebanarnya mengapa Ary dan dia secara tiba-tiba harus
berpisah. Alasan yang sebenarnya juga ingin Melia sampaikan kepada Ary mengapa
dia meninggalkannya tanpa sebab yang tidak dapat dimengerti oleh Ary.
Hampir satu jam Melia terdiam di kamarnya, di depan laptop
yang sedari tadi telah dia campakkan untuk mengarungi kenangan bersama Ary. Seketika
dia tersadar dari lamunannya. Udara terasa menyesakkan untuknya saat ini.
"Aku butuh kafein" pikirnya. Lalu dia beranjak, menuju dapur apartemennya.
Secangkir kopi hitam dengan sedikit gula dibuatnya untuk menemani hingga akhir
malam ini.
Setengah jam sebelum deadline yang ditentukan, semua file
telah dikirim melalui e-mail. Dan Melia pun langsung menuju tempat tidurnya,
"melelahkan sekali hari ini" ujarnya.
Beberapa blok dari apartemen Melia, Ary tengah duduk di
balkon rumahnya. Bertemankan kopi pahit dan alunan sendu True love waits milik Radio
Head yang terputar dari perangkat audio di kamarnya pikirannya tertuju pada
Melia.
Di depan semua orang Ary dapat menyembunyikan perasaannya
dengan bersikap acuh dan memilih untuk menyendiri diantara buku-buku. Namun
bayangan Melia tak pernah pernah bisa berhenti mengganggunya. Sosok wanita
istimewa yang mengisi seluruh ruang di hatinya itu, yang lalu meninggalkannya
tanpa alasan yang dapat diterima olehnya. Sosok wanita yang telah membuat luka
di hati Ary dengan kepergiannya, namun tak pernah sedikitpyn Ary kehilangan
rasa cintanya kepada Melia.
Pandangannya tertuju pada handphone di sebelah kursi
tempatnya tengah melamun. Ingin sekali dia menghubungi Melia sekali lagi
meskipun telah berpuluh kali pesan dan telponnya tak mendapat respon yang positif.
Namun sekali lagi dia ragu apakah gadis pujaannya akan membalas pesannya
ataukan satu kekecewaan lagi yang akan dia peroleh. Hal ini membuatnya gentar.
Dengan suasana hati yang masih tak menentu dinyalakannya sebatang kretek dan dihisapkanya
dalam-dalam sambil memejamkan mata. Bagaikan slide film cinta yang lama dia
mengingat kembali kebahagiannya bersama Melia, perasaan tenang saat bersamanya
dan keceriaan yang selalu terpancar di mata gadis pujaannya. "Oohhh lama
sekali waktu berlalu sejak saat itu" gumamnya. Sambil menyisakan sebuah isapan
akhir pada kretek yang singgah di jemari tangan kanannya lagi-lagi matanya tertuju
pada telepon seluler disampingnya. "Aku harus menghubungi Melia!!".
"Kamu mungkin sudah terlelap saat ini, maafkan aku jika
mengganggumu. Tapi hatiku masih belum tenang jika belum bertemu denganmu dan
menjelaskan semua yang terjadi diantara kita.." sebuah pesan yang agak
berisi kalimat putus asa dikirimnya ke Melia. Hatinya telah siap menerima satu
kekecewaan lagi.
Masih di balkon rumahnya tiba-tiba dering handphone-nya
berbunyi. "1 message receive" dilihatnya di layar lcd. "Besok
jam 7 malam di tempat biasa". Satu pesan singkat tanpa diduga berisi
jawaban dari Melia. Hatinya berdebar. Tak disangka dia akan menerima balasan
dari Melia.
***
No comments:
Post a Comment