Tuesday, November 19, 2013

Proyek Kroyokan 2

Rendi mengayunkan langkahnya menghampiri Ari yang sepertinya sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
“Hey man,” sapanya agak keras.
Ari mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya.
“Pernahkah kau mendengar kisah tentang Icarus?” tiba-tiba Ari bertanya kepadanya.
Rendi hanya terbelalak heran, “Tidak, kenapa memangnya?”
“Ceritanya kurang lebih seperti ini,” sambung Ari dengan bersemangat.
Rendi hanya memutar mata, “okay, here you are …”
“Daedalus adalah seorang penemu yang sangat brilian,…”
Ketika dilihatnya Rendi mengangkat alis tanda heran, Ari buru-buru menambahkan,
“… seperti Thomas Edison pada zamannya. Sayangnya, ia membuat marah Raja Minos, penguasa pulau Kreta, dan dia harus terusir keluar dari sana. Dalam keputusasaannya untuk melarikan diri dari pulau, Daedalus menggunakan lilin untuk membentuk beberapa sayap untuk dirinya sendiri dan untuk Icarus, anaknya. Daedalus memperingatkan anaknya untuk terbang pada ketinggian menengah, karena air laut akan menyusutkan sayap mereka dan sebaliknya matahari akan mencairkan sayap mereka.”
“Dongeng anak-anak?” tanya Rendi heran.
Ari hanya menggeleng dan meneruskan ceritanya, “Icarus mengindahkan nasihat ayahnya pada awalnya, tapi kemudian kesombongan merayapinya. Dia terlalu senang karena dia bisa terbang, dia melupakan peringatan ayahnya dan terbang terlalu dekat dengan matahari. Benar saja, sayapnya meleleh dan Icarus merosot ke laut dan tenggelam oleh sisa sayap yang membebaninya. Daedalus tentu saja hancur oleh kematian anaknya, but show must go on Rend.  Daedalus tetap melanjutkan perjalanannya. Dia melanjutkan terbang ke Sisilia, dan dalam rasa dukanya untuk Icarus dia membangun sebuah kuil untuk menghormati dewa Apollo.”
Rendi menggelengkan kepala melihat Ari kembali membenamkan hidungnya ke buku yang sama, si kutu buku itu tidak pernah berubah batinnya. Tergila-gila pada buku, dengan penampilannya yang kurus, dan berkacamata, serta suka bergumam tidak jelas, orang yang tidak kenal Ari dengan baik pasti akan mengira kalau Ari itu orang aneh. Padahal Ari sama sekali tidak aneh, selain Melia, Ari adalah sahabat Rendi sejak awal mereka bertemu kelas 1 SMA. Saat itu Ari sedang digencet oleh preman-preman di kelasnya dan secara kebetulan Rendi melihat hal itu dan menyelamatkannya, sekalipun saat itu Rendi harus membayar dengan mukanya yang babak belur karena perkelahian yang tidak seimbang. Rendi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia mulai mengantuk di tengah kesunyian dan desir buku yang dibaca oleh orang-orang di perpustakaan siang itu.
“Bagaimana jika Icarus mati bukan karena kesombongannya?” Tanya Ari tiba-tiba, membuat Rendi yang sudah terkantuk-kantuk kembali membuka matanya.
Ari meletakkan buku yang dibacanya, dia berpikir-pikir. Bagaimana jika kisah tentang Icarus tadi tidak sepenuhnya benar. Karena kisah yang dibacanya lebih ke Legenda yang tentu saja sudah mengalami tambal sulam dalam perjalanannya. Dalam imajinasinya, Icarus tidak mati karena terlalu sombong. Dia mati karena sesuatu yang lain, rasa penasarannya mungkin. Diliriknya kertas kosong di sampingnya dan dia mulai menulis cerita versinya.
Icarus mengindahkan nasihat ayahnya pada awalnya, tapi kemudian sesuatu terjadi, selama penerbangan ia memiringkan kepalanya dan melihat cahaya terang dari matahari. Ia merasa penasaran terhadap cahaya yang melingkupinya, cahaya yang indah sekaligus menyilaukan. Pada saat itu, Icarus menyadari, dia menginginkan cahaya itu. Tapi pada saat yang sama ia juga menyadari hal lain, bahwa cahaya yang sama akan membunuhnya!  Apa yang harus dilakukan? Ia akan hidup karena tahu dia tidak akan mendapatkan kesempatan lain untuk bisa merangkul cahaya. Atau ia harus mati dan percaya kalau cahaya itu layak diraih? Logikanya tenggelam, hatinya menang! Dia mengepakkan sayapnya ke arah matahari, cukup yakin, kemudian sayapnya meleleh, dan Icarus merosot ke laut dan tenggelam oleh sisa sayap yang membebaninya.
“Ini, coba kamu baca cerita versiku.” Ari menyodorkan kertas yang berisi tulisannya ke Rendi yang menggumam tak jelas.
“Imajinasimu terlalu tinggi, kenapa kamu tidak mengirimkan naskahmu ke salah satu penerbit? Aku yakin, kamu bisa jadi pencerita dan pendongeng yang baik.” Kata Rendi pada akhirnya sebelum mereka berpisah di depan Perpustakaan Kota Malang sore itu.
Dalam perjalanan pulang, Ari kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia kembali teringat kisah tentang Icarus yang dibacanya. Cahaya yang dilihat Icarus adalah cahaya yang menyilaukan sekaligus indah. Seperti cahaya yang selalu dia lihat di mata Melia, perempuan yang bertahun-tahun dicintainya, ketika kemudian dia menyadari kalau rasa cintanya juga perlahan-lahan menenggelamkannya. Sama seperti Icarus yang mati karena ingin merengkuh cahaya, dia pun hampir mati karena cintanya yang terlalu dalam.
Hingga terjadi salah paham antara dia dan Melia, yang menyebabkan Melia tidak pernah mau lagi berbicara dengannya, melihatnya pun tidak. Sekalipun dia berkali-kali meminta maaf dan meminta Rendi untuk menyampaikan permohonan maafnya untuk Melia, Melia tetap bergeming dengan pendiriannya.

***

No comments:

Post a Comment