Rendi mengayunkan langkahnya
menghampiri Ari yang sepertinya sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
“Hey man,” sapanya agak keras.
Ari mengangkat kepala dari buku
yang sedang dibacanya.
“Pernahkah kau mendengar kisah
tentang Icarus?” tiba-tiba Ari bertanya kepadanya.
Rendi hanya terbelalak heran,
“Tidak, kenapa memangnya?”
“Ceritanya kurang lebih seperti
ini,” sambung Ari dengan bersemangat.
Rendi hanya memutar mata, “okay, here you are …”
“Daedalus adalah seorang penemu
yang sangat brilian,…”
Ketika dilihatnya Rendi
mengangkat alis tanda heran, Ari buru-buru menambahkan,
“… seperti Thomas Edison pada
zamannya. Sayangnya, ia membuat marah Raja Minos, penguasa pulau Kreta, dan dia
harus terusir keluar dari sana. Dalam keputusasaannya untuk melarikan diri dari
pulau, Daedalus menggunakan lilin untuk membentuk beberapa sayap untuk dirinya
sendiri dan untuk Icarus, anaknya. Daedalus memperingatkan anaknya untuk
terbang pada ketinggian menengah, karena air laut akan menyusutkan sayap mereka
dan sebaliknya matahari akan mencairkan sayap mereka.”
“Dongeng anak-anak?” tanya Rendi
heran.
Ari hanya menggeleng dan meneruskan
ceritanya, “Icarus mengindahkan nasihat ayahnya pada awalnya, tapi kemudian
kesombongan merayapinya. Dia terlalu senang karena dia bisa terbang, dia
melupakan peringatan ayahnya dan terbang terlalu dekat dengan matahari. Benar
saja, sayapnya meleleh dan Icarus merosot ke laut dan tenggelam oleh sisa sayap
yang membebaninya. Daedalus tentu saja hancur oleh kematian anaknya, but show must go on Rend. Daedalus tetap melanjutkan perjalanannya. Dia
melanjutkan terbang ke Sisilia, dan dalam rasa dukanya untuk Icarus dia
membangun sebuah kuil untuk menghormati dewa Apollo.”
Rendi menggelengkan kepala
melihat Ari kembali membenamkan hidungnya ke buku yang sama, si kutu buku itu
tidak pernah berubah batinnya. Tergila-gila pada buku, dengan penampilannya
yang kurus, dan berkacamata, serta suka bergumam tidak jelas, orang yang tidak
kenal Ari dengan baik pasti akan mengira kalau Ari itu orang aneh. Padahal Ari
sama sekali tidak aneh, selain Melia, Ari adalah sahabat Rendi sejak awal
mereka bertemu kelas 1 SMA. Saat itu Ari sedang digencet oleh preman-preman di kelasnya dan secara kebetulan Rendi
melihat hal itu dan menyelamatkannya, sekalipun saat itu Rendi harus membayar dengan
mukanya yang babak belur karena perkelahian yang tidak seimbang. Rendi
menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia mulai mengantuk di tengah
kesunyian dan desir buku yang dibaca oleh orang-orang di perpustakaan siang
itu.
“Bagaimana jika Icarus mati bukan
karena kesombongannya?” Tanya Ari tiba-tiba, membuat Rendi yang sudah
terkantuk-kantuk kembali membuka matanya.
Ari meletakkan buku yang
dibacanya, dia berpikir-pikir. Bagaimana jika kisah tentang Icarus tadi tidak
sepenuhnya benar. Karena kisah yang dibacanya lebih ke Legenda yang tentu saja
sudah mengalami tambal sulam dalam perjalanannya. Dalam imajinasinya, Icarus
tidak mati karena terlalu sombong. Dia mati karena sesuatu yang lain, rasa
penasarannya mungkin. Diliriknya kertas kosong di sampingnya dan dia mulai
menulis cerita versinya.
Icarus
mengindahkan nasihat ayahnya pada awalnya, tapi kemudian sesuatu terjadi,
selama penerbangan ia memiringkan kepalanya dan melihat cahaya terang dari
matahari. Ia merasa penasaran terhadap cahaya yang melingkupinya, cahaya yang
indah sekaligus menyilaukan. Pada saat itu, Icarus menyadari, dia menginginkan
cahaya itu. Tapi pada saat yang sama ia juga menyadari hal lain, bahwa cahaya
yang sama akan membunuhnya! Apa yang
harus dilakukan? Ia akan hidup karena tahu dia tidak akan mendapatkan
kesempatan lain untuk bisa merangkul cahaya. Atau ia harus mati dan percaya
kalau cahaya itu layak diraih? Logikanya tenggelam, hatinya menang! Dia
mengepakkan sayapnya ke arah matahari, cukup yakin, kemudian sayapnya meleleh,
dan Icarus merosot ke laut dan tenggelam oleh sisa sayap yang membebaninya.
“Ini, coba kamu baca cerita
versiku.” Ari menyodorkan kertas yang berisi tulisannya ke Rendi yang menggumam
tak jelas.
“Imajinasimu terlalu tinggi,
kenapa kamu tidak mengirimkan naskahmu ke salah satu penerbit? Aku yakin, kamu
bisa jadi pencerita dan pendongeng yang baik.” Kata Rendi pada akhirnya sebelum
mereka berpisah di depan Perpustakaan Kota Malang sore itu.
Dalam perjalanan pulang, Ari
kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia kembali teringat kisah tentang
Icarus yang dibacanya. Cahaya yang dilihat Icarus adalah cahaya yang
menyilaukan sekaligus indah. Seperti cahaya yang selalu dia lihat di mata
Melia, perempuan yang bertahun-tahun dicintainya, ketika kemudian dia menyadari
kalau rasa cintanya juga perlahan-lahan menenggelamkannya. Sama seperti Icarus
yang mati karena ingin merengkuh cahaya, dia pun hampir mati karena
cintanya yang terlalu dalam.
Hingga terjadi salah paham antara
dia dan Melia, yang menyebabkan Melia tidak pernah mau lagi berbicara
dengannya, melihatnya pun tidak. Sekalipun dia berkali-kali meminta maaf dan
meminta Rendi untuk menyampaikan permohonan maafnya untuk Melia, Melia tetap
bergeming dengan pendiriannya.
***
No comments:
Post a Comment