Monday, November 18, 2013

Project Kroyokan 1


Perlahan ia menyesap cappuccinonya, tatapannya tak lepas memandang rintik hujan yang kini hanya tinggal gerimis saja. Sesaat kemudian ia mengambil ponsel dari dalam saku, membaca pesan singkat yang tertera disana. Satu kata, membuatnya termangu dan menghelah nafas panjang.

- Maaf -

Pengumuman yang menyatakan bahwa dirinya harus segera boarding menyadarkannya dari lamunan. Tergesa ia menghabiskan cappuccino yang mulai mendingin dan me-non aktif-kan ponselnya sebelum memasukkannya kembali ke saku.

Mungkin keputusanku untuk kembali ke Malang benar-benar tepat. Pikirnya sambil bergegas masuk ke pesawat.

* * *

"Boleh aku duduk di sini?"

"Why not, monggo, silahkan"

Derai tawa mengiringi jawabannya yang mencampur adukkan segala bahasa.

"Apa kabarmu Mel?"

"Seperti yang kamu lihat, baik!"

"Lantas bagaimana dengan yang tak dapat aku lihat?"

"Hmmm, kamu selalu begitu."

"Kamu memang tampak baik-baik saja, tetap riang dan selalu cantik!"

"Tapi..."

"Tapi tatapan matamu nggak bisa bohong Mel. Atau setidaknya tidak bisa membohongiku"

"Aku masih berusaha Ndi, tapi tak semudah yang aku bayangkan."

"Nggak ada yang bilang akan mudah Mel, tapi jangan kamu bohongi dirimu sendiri. Kenapa kamu nggak coba minta penjelasan atau apalah. Kamu pernah bilang sama aku, berjuang buat dapetin cinta, sebelum menyesal, karena kehilangan tanpa perjuangan itu rasanya lebih sakit. Dan ya, apa yang kamu katakan memang benar, tapi kenapa sekarang justru lari dari cintamu?"

"Aku pasti berjuang untuk cintaku Ndi, jika cinta itu memang pantas untuk diperjuangkan."

“Jadi…”

“Jadi tak ada lagi yang perlu dibahas Ndi. Aku mau jalani ini semua dulu, dinikmati saja walau yang harus aku nikmati adalah rasa yang tidak enak.”

Rendi terdiam, walau tatapannya sebenarnya masih menyiratkan keinginan untuk menyela, sedang Melia seakan kembali asyik dengan laptopnya. Tetapi matanya tak lagi fokus, ia hanya menghindari tatapan mata Rendi.

Berteman selama hampir separuh usianya dengan Rendi membuat Melia seakan tak bisa lagi menyembunyikan apapun dari Rendi. Semua orang mungkin melihat Melia sebagai sosok yang extrovert, ceria, selalu bersemangat, tetapi di titik tertentu Melia seakan memiliki tombol dimana ia bisa dengan mudah dapat menyaring hal-hal yang tak seharusnya ditunjukkan pada orang lain. Saat ia menjadi Melia yang begitu tertutup, dan hanya Rendi lah yang mengetahui kapan tombol itu mulai digunakan oleh Melia.

Bagi Rendi, Melia bukan hanya sekedar sahabat, Melia adalah cinta monyetnya. Mereka pernah berpacaran, walau saat itu pacaran bagi mereka adalah berangkat dan pulang sekolah bersama, makan di kantin sekolah bersama, mengerjakan tugas sekolah bersama. Hanya sebuah kebersamaan, tanpa cinta. Hingga akhirnya ketika mereka mengenal cinta, justru cinta itu terpaut pada orang lain.

Melia tak banyak berganti pacar, beberapa kali ia hanya menjomblo selama selang waktu tertentu, hingga akhirnya ia berpacaran dengan seseorang yang satu kantor dengannya, di Jakarta. Namun hubungan itu harus berakhir justru saat mereka mulai merencanakan pernikahan.

Sedang Rendi, sejak mengenal cinta dia dikenal sebagai petualang cinta. Tak ada ia menambatkan cintanya lebih dari 6 bulan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjomblo saja walau tetap banyak gadis yang selalu mau diajaknya jalan walaupun tanpa ikatan.

Setelah beberapa saat mereka hanya diam, “Mel…”

“Hmmm…” Melia tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya, jemarinyapun tetap menari seakan tak ingin diganggu.

“Ari menghubungiku.”

Sedetik setelah Rendi mengatakan kalimat singkat itu Melia langsung menghentikan kegiatannya, tetapi tetap tak melepaskan pandangannya dari layar laptop.

“Dia ingin tahu kabarmu.”

“Untuk apa?” sedikit lirih kalimat itu keluar dari bibir Melia.

“Kamu tak membalas semua pesannya, kamu tak mengangkat teleponnya.”

“Bukankah itu akan membuat semuanya lebih mudah. Benar kan Ndi?”

“Dia ingin menjelaskan semuanya Mel.”

“Kamu tahu Ndi, terkadang dengan kita tidak tahu apa-apa itu menghindarkan kita dari sakit hati. Kamu nggak inginkan aku lebih sakit, Ndi?”

Akhirnya Rendi kembali terdiam, dan Melia kembali asyik dengan kerjaannya.

No comments:

Post a Comment